Home / OPINI / Perawan Bukan Jaminan Bebas HIV/AIDS!

Perawan Bukan Jaminan Bebas HIV/AIDS!

Oleh :
Detya Sella Ekananda
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sriwijaya

Ketika mendengar kata HIV/AIDS, sebagian besar orang akan langsung berpikir bahwa HIV adalah penyakit “kotor” dan mengerikan. Penyakit yang tidak ada obatnya dan di idap oleh orang yang bergonta-ganti pasangan dalam hubungan seksual seperti pekerja seks komersial (PSK).

Human Immunodeficiency Virus (HIV) sendiri adalah adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh, dengan menginfeksi dan menghancurkan sel CD4. Semakin banyak sel CD4 yang dihancurkan, kekebalan tubuh akan semakin lemah, sehingga rentan diserang berbagai penyakit. Sedangkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Virus), adalah kumpulan dari gejala dan infeksi, atau sindrom yang disebabkan oleh rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat serangan virus HIV. AIDS merupakan bentuk terparah akibat infeksi HIV.

Dengan stigma ini, pernahkah terpikir bahwa seorang perawan dapat mengidap HIV/AIDS? Perawan merujuk pada seorang perempuan yang belum menikah dan belum pernah melakukan hubungan seksual secara vaginal. Dengan pengetahuan yang kurang memadai terhadap HIV/AIDS dan stigma penyakit “kotor” tersebut tentu jawabannya tidak mungkin seorang perawan dapat mengidap HIV/AIDS.

Faktanya HIV/AIDS tidak hanya disebabkan oleh hubungan seksual yang tidak aman dan bergonta-ganti. Tetapi banyak faktor yang menjadi penyebab, antara lain transfusi darah dari penderita HIV. Kemudian penggunaan jarum suntik dengan penderita HIV, misalnya penggunaan jarum suntik bersama ketika membuat tato atau penggunaan NAPZA suntik. Penularan dari ibu dengan HIV ke janin yang dikandungnya. Pemberian ASI dari penderita HIV/AIDS.

Untuk menjaga keperawanan serta mencegah kehamilan dan HIV banyak pasangan tidak melakukan seks vaginal, dan memilih seks anal dan oral. Faktanya seks anal maupun oral dapat menyebabkan tertularnya HIV/AIDS karena dalam seks anal maupun oral terdapat cairan pembawa virus HIV yaitu cairan sebelum orgasme, air mani, darah, cairan dubur. Dapat diperparah bila terdapat sariawan dan luka terbuka. Dalam hal ini, menurut Dr. Boyke Dian Nugraha SpOG dalam survei global perilaku seksual mengatakan risiko penularannya sekitar 70-80 persen.

Penularan juga bisa terjadi jika melakukan masturbasi bersama dengan pasangan penderita HIV dan menggunakan mainan seks langsung secara bergantian (dalam kondisi sex toy-nya masih basah) tanpa dicuci terlebih dahulu. Akan tetapi, kasus ini sangat langka. Pasalnya, kuman HIV bisa mati di luar tubuh manusia.

Keperawanan bukan jaminan tidak mengidap HIV/AIDS karena bisa saja tertular melalui faktor penyebab lainnya. Kita hanya dapat yakin tidak terinfeksi HIV bila 100% belum pernah melakukan perilaku berisiko apa pun, dan belum pernah terpajan pada cairan terinfeksi HIV apa pun.Satu-satunya cara untuk memastikan dengan tes HIV.

Tidak perlu takut untuk melakukan tes HIV dan tes kesehatan lainnya sejak dini karena memungkinkan diri mengendalikan kesehatan diri sendiri dan upaya pencegahan terhadap berbagai penyakit. Dengan tes HIV sejak dini, pasien yang terdeteksi bisa melakukan pencegahan penularan dan pengobatan agar virus HIV tidak menjadi AIDS.

Cegah HIV/AIDS dengan tidak berbagi jarum suntik bersama, hindari obat terlarang, hindari menyentuh darah dan cairan tubuh orang lain, perhatikan luka yang terbuka, lakukan vaksin hepatitis A dan hepatitis B, dan hindari seks bebas dan tidak aman dengan setia pada pasangan. Masa depan cemerlang tanpa HIV/AIDS! (*)

Advertisement
Bagikan Ini Di :