Gambar_Langit Gambar_Langit

Islam dan Pancasila Dalam Konteks Kebangsaan Indonesia

waktu baca 6 menit
Rabu, 15 Agu 2018 13:34 0 151 Redaktur Pelita Sumsel

Oleh
Dr. Mohammad Syawaludin

Reformasi 1998 memang menjadi landasan bagi arah pembentukan tradisi demokratis di Indonesia, meski demikian, baru tahun 2004 sistem elektoral yakni pada saat PILPRES. Dengan kata lain, transisi Indonesia menuju suatu bangsa yang demokratis masih harus terus mengembangkan beragam bentuk partisipasi politik. Di sisi Bentuk masyarakat dan relasi sosial tentu juga semakin kompleks. Touriane mengidentifikasi ada empat tipe masyarakat. Berdasarkan ciri antagonismenya yakni masyarakat agraris, merkantilis, industri dan terprogram. Keempat tipe tersebut cenderung tidak disebut sebagai progres atau evolusi masyarakat, tetapi mereka diandaikan bisa saling tumpang tindih. Antagonisme dalam masyarakat agraris adalah antarpekerja dan tuan tanah. Merkantilisme antarbudak dan saudagar.

Dalam masyarakat industri yang berkonflik adalah kelas buruh dan pemodal. Sedangkan dalam masyarakat yang terprogram, antagonismenya lebih kompleks. Ciri khas dalam masyarakat terprogram adalah produksi hal simbolik atau kultural yang membentuk atau mentransformasikan representasi esensi manusia dan dunia eksternal. Gagasan Touraine bermaksud mengenali tipe (cara) produksi baru, kekuatan baru dan konflik sosial baru dalam masyarakat kontemporer.

Seturut dengan kompleksitas tantangan bangsa ini, adalah pelaksanaan pancasila sebagai bagian dari aktualisasi islam, sebab pancasila dengan kelima silanya merupakan kesatuan yang utuh dan tidak bisa dipisahkan unsur-unsurnya. Karena masing-masing sila menjadi perekat dari yang lainnya dalam menjaga keutuhan nilai ideologisnya. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia. Sila pertama hingga sila kelima dari Pancasila tersebut, mengandung unsur-unsur pokok tidak hanya Negara-bangsa, namun juga pesan moral. Mengapa dikatakan tantangan baru sebab generasi mileneal atau Z, pada umumnya memiliki basis orientasi kultural yang berbeda, dalam seperangkat kultural yang membentuk ketimpangan relasi sosial diantara mereka. Mereka berjuang dalam arena produksi kultural, mengubah seperangkat sistem makna, yang melaluinya relasi sosial dimapankan.

Penegakan Pancasila sebagai ideologi yang beradab dan bermartabat di tengah-tengah era globalisasi ini sangat penting. Pancasila diletakkan sebagai falsafah dan dasar negara untuk memperkokoh kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita tidak bisa lepas dan lari dari gempuran globalisasi. Peringatan Hari Kesaktian Pancasila adalah bukti sejarah bahwa bangsa ini bisa bertumbuh menjadi bangsa yang besar ketika mampu menggerakkan seluruh elemen bangsa untuk bersatu dan memaknai Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa.

Atas pandangan dimaksud realisasi sistem nilai yang dikandung Pancasila haruslah tetap relevan dan actual sebagai norma mendasar dan pandangan hidup bangsa ini secara utuh serta integral. Komitmen dan konsistensi dalam pengamalan Pancasila, yang juga menjadi tekad dari para pendiri bangsa dalam berjuang memperebutkan dan mempertahankan kemerdekaan, dalam konteks Indonesia sekarang, dimana untuk sementara waktu demokrasi menjadi pilihan sebagai bentuk Negara, harus mulai dibangun baik pada wilayah pengetahuan, kesadaran, maupun pelaksanaan atas pemahaman tersebut. Lima silanya menggambarkan sikap inklusif yang menjadi karakter bangsa ini.

Ada keterbukaan menerima perbedaan. Pancasila mampu menaungi beragam pandangan terkait konsep kebangsaan. Kaum agamawan merasa nyaman dengan Pancasila. Sebab spirit agama melekat erat dalam nilai-nilai Pancasila. Begitu pun kaum nasionalis, merasakan keteduhan sebab agama tidak dipraktekkan secara kaku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak ada dikotomi dalam Pancasila. Pada nyatanya, Pancasila benar-benar menjadi jalan tengah sekaligus jalan ketiga yang memberi alternatif pengelolaan negara yang ideal.

Nasionalisme Indonesia melahirkan Pancasila sebagai ideologi negara. Perumusan Pancasila sebagai ideologi negara terjadi dalam BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Di dalam badan inilah Soekarno mencetuskan ide yang merupakan perkembangan dari pemikirannya tentang persatuan tiga aliran besar: Nasionalisme, Islam, dan Marxis. Pemahamannya tentang tiga hal ini berbeda dengan pemahaman orang lain yang mengandaikan ketiganya tidak dapat disatukan.

Islam telah menebalkan rasa dan haluan nasionalisme. Citacita Islam untuk mewujudkan persaudaraan umat manusia dinilai Soekarno tidak bertentangan dengan konsep nasionalismenya. Dan sesuai dengan konsep Islam, dia menolak bentuk nasionalisme yang sempit dan mengarah pada chauvinisme. Nyatanya rumusan Pancasila merupakan capaian terbesar bangsa ini. Tidak semua bangsa di dunia bisa membuat dasar negara seperti yang kita miliki. Jika perlu, bangsa-bangsa di dunia meniru Indonesia dengan Pancasilanya.

Menurut Karen Amstrong, fakta bahwa umat Islam belum menemukan bentuk pemerintahan yang ideal selama abad ke-20 tidak menunjukkan Islam tidak fleksibel dengan modernitas. Perjuangan memasukkan cita-cita Islam dalam struktur negara dan menemukan pemimpin yang benar telah membuat sibuk umat Islam. Saenan gagasan tentang negara Islam yang sejati bersifat transenden. Gagasan tersebut tidak dapat diungkapkan secara sempurna dalam bahasa manusia dan tidak dapat terhindar dari kelemahan dan kekurangan manusia. Seluruh masyarakat religius harus membuat tradisi mereka menghadapi tantangan modernitas bahkan, pencarian bentuk pemerintahan Muslim yang ideal tidak boleh dianggap menyimpang melainkan sebagai perbuatan religius yang penting dan khas.

Pancasila pun amat selaras dengan spirit agama manapun (termasuk juga dengan Islam). Dua ormas keagamaan mainstreamdi Indonesia, Muhammadiyah dan NU, bahkan terus-menerus menekankan urgensi Pancasila dalam kehidupan negara ini. Sikap seperti ini harus tertanam dalam lubuk semua manusia Indonesia. Dilandasi oleh landasan-landasan teologis Islam dan landasan-landasan kultural kebangsaan, Umat Islam berkewajiban untuk mengupayakan perbaikan-perbaikan sosial bagi sesama. Umat Islam harus menjadi rahmat bagi lingkungan, dan bergotong royong dalam mengupayakan kebaikan.

Umat Islam bertanggungjawab penuh untuk menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia. Republik Indonesia adalah “warisan” dari para pendiri bangsa, para guru bangsa, kaum Muslimin yang berjuang dan mengorbankan jiwanya demi kemerdekaan dan persatuan Indonesia. Dan yang tak boleh dilupakan bahwa, persatuan keindonesiaan tidak hanya dibangun dalam konteks geografis, melainkan kesatuan kejiwaan untuk bersama-bersama mewujudkan kehidupan yang lebih baik, yang lebih beradab. Persatuan Indonesia adalah sila ketiga pancasila yang ‘mewajibkan’ setiap individu warga negara untuk mengeguhkan persatuan dan kesatuan. Sebagai mayoritas, umat Islam harus menunjukkan wajah bersahabat dan penuh kasih kepada sesama. Secara teologis dan praktik-praktik keagamaan Nabi Muhammad dapat menjadi tauladan bagaimana toleransi dan perdamaian adalah spirit humanitas Islam. Tindakan-tindakan intoleransi selain mengabaikan spirit humanitas tersebut, juga melanggar spirit-spirit kebangsaan sebagai manusia yang beradab sebagaimana tertuang dalam sila kedua Pancasila. Umat Islam mampu mengedepankan kedewasaan berpolitik dengan tidak memaksakan kehendak dalam penerapan syariah Islam secara formal sebagai norma dalam bernegara. Bahkan semangat nasionalisme yang dilandasi spirit Islam mampu mempersatukan masyarakat dalam mengusir penjajah dari Indonesia dengan mengesampingkan ego kesukuan dan etnis.

Oleh karena itu sudah selayaknya tidak ada lagi kecurigaan kepada Umat Islam yang dianggap tidak nasionalis ketika mereka ingin menjalankan ajaran agamanya lebih leluasa. Tantangan keislaman dan keindonesiaan adalah mewujudkan perbaikan-perbaikan kualitas hidup dan kualitas kemanusiaan yang didorong oleh nilai-nilai Islam yang toleran, damai, dan transformatif, didorong oleh nilai-nilai keindonesiaan yang tertuang dalam prinsip-prinsip Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Undang-Undang, dan segala kreativitas-kreativitas kebangsaan yang lain.

Redaktur Pelita Sumsel

Media Informasi Terkini Sumatera Selatan

LAINNYA