Jumlah Perempuan Indonesia Capai 49,5 Persen kategori uUsia Produktif

waktu baca 3 menit
Kamis, 14 Jul 2022 20:15 0 94 Redaktur Romadon

 

Jakarta, Pelita Sumsel – Tim Juru Bicara G20 Maudy Ayunda mengatakan hingga saat ini, jumlah perempuan Indonesia mencapai 49,5 persen dari total populasi.

Mayoritas dari mereka, kata Maudy, adalah kategori usia produktif.

Demikian diungkapkan Maudy dalam diskusi daring yang digelar Forum
Merdeka Barat 9 (FMB9) bertema “Perempuan Berdaya untuk Pulih Bersama”pada Kamis (14/7/22).

Mengutip Michele Obama (istri mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama) yang mengatakan, tidak ada negara yang bisa benar-benar berkembang jika menghambat potensi perempuannya dan menghilangkan kontribusi dari
separuh warganya.

Menurut Maudy, negara harus peduli pada perempuan dan memberikan jalurjalur yang dapat mendukung terciptanya kesetaraan gender. Dengan memberikan ruang bagi perempuan untuk berkarya, maka negara dapat mencapai kemajuan.

“Jadi kalau ingin negara ini maju, maka kita juga perlu menaruh perhatian pada
isu pemberdayaan perempuan. Dan, kita harus peduli dan memberikan jalurjalur yang betul-betul mendukung kesetaraan. Karena perempuan memiliki kemanusiaan yang sama dan berhak,” ungkapnya.

Sebagai tuan rumah penyelenggara Konferensi Tingkat Tinggi G20 tahun 2022, komitmen Indonesia sangat kuat untuk mengangkat isu-isu perempuan. Pada Presidensi G20 Indonesia tahun ini, Indonesia mendorong isu-isu tersebut melalui aliansi G20 EMPOWER dan Engagement Group Women20 atau W20.

G20 EMPOWER merupakan inisiatif Indonesia, berupa aliansi para pemimpin sektor swasta dan pemerintah untuk bersama memberikan pendampingan dan mendukung kemajuan pemimpin perempuan.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, bersama IWAPI dan Swasta, menjadi focal point pada G20 EMPOWER dalam rangka mempromosikan pentingnya kepemimpinan perempuan dalam dunia usaha.

Secara konkrit, G20 Empower akan membahas bagaimana meningkatkan peran perempuan di perusahaan, mendorong UMKM milik perempuan sebagai penggerak ekonomi, dan bagaimana membangun dan meningkatkan ketahanan dan keterampilan digital perempuan untuk masa depan.

Sementara itu, Engagement Group W20 adalah forum dialog dalam G20 yang
mewakili suara perempuan. Misinya adalah mendorong komitmen para Pemimpin negara dalam pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender.

W20 terus mengangkat kedua isu ini di setiap diskusi G20 dan mempromosikan pembangunan berkelanjutan serta investasi demi pertumbuhan yang inklusif.

Forum W20 lebih luas membahas diskriminasi dan kesetaraan, inklusi ekonomi untuk UMKM perempuan, ketahanan perempuan marjinal di pedesaan dan penyandang disabilitas, serta kesetaraan respon kesehatan.

Terbentur Pandangan Kultural
Diminta pandangannya soal peran perempuan di Indonesia, menurut Maudy, perempuan memiliki kontribusi yang besar di masyarakat. Namun, dia melihat, dalam upaya mengatualisasi diri, perempuan Indonesia terbentur pandangan kultural.

“Misalnya dari pengalaman saya sendiri, ketika hendak kuliah di luar negeri, ada
saja yang ngomong “ngapain sekolah tinggi-tinggi kalau nanti akhirnya di rumah saja” Atau anggapan yang mengatakan perempuan tidak perlu berkontribusi sebesar itu. Ini sebenarnya masuk ke alam bawah sadar dan mempengaruhi
mindset dan kondisi emosinal saya,” tuturnya.

Pada titik ini, lanjut Maudy, dia ingin mengajak para perempuan di Indonesia untuk -apa yang ia sebut sebagai- kemandirian, bukan hanya kemandirian secara finansial melainkan juga kemandirian berpikir.

“Saya ingin mengajak para perempuan di luar sana untuk mandiri, bukan hanya kemandirian yang tipikal, maksudnya finansial, tapi kemandirian dalam berpikir juga,” katanya.

Proses mencerdaskan diri, kata Maudy, merupakan sebuah aksi yang sangat
powerful bagi perempuan.

“Maka dari itu, ia mendorong para perempuan untuk
memiliki target dalam menempuh pendidikannya. Dengan begitu, akan ada terobosan dari setiap individu untuk dirinya,” tutupnya

Menurut Maudy, kemandirian berpikir seseorang didapatkan melalui
pendidikan. Sebab proses berpikir yang sistemis itu, tambahnya, tidak
didapatkan dengan sendirinya, melainkan melalui bacaan, berbicara dengan orang lain, membuka diri terhadap beragam perspektif dan lain-lain.

“Saya rasa kita akan mendapatkan kekuatan lebih di situ untuk bisa memiliki opini-opini sendiri, juga tidak terbawa alur-alur atau ekspektasi atau bebanbeban di luar sana yang mungkin akhirnya, merugikan perempuan,” tutupnya.

LAINNYA