Home / OPINI / 92 Tahun Sumpah Pemuda; Peluang Pemuda Dalam Menghadapi Era Bonus Demografi
Desain by Pelita Sumsel

92 Tahun Sumpah Pemuda; Peluang Pemuda Dalam Menghadapi Era Bonus Demografi

 

Oleh : Bambang Irawan*

 

92 Tahun kita memperingati bukti kebulatan tekad para Intelektual Muda yang di miliki Republik pada saat itu untuk menyatukan persepsi agar bersama-sama berjuang melepaskan diri Negara Kesatuan Republik Indonesia dari belenggu penjajahan, dengan kematangan berpikir Intelektual Muda saat itu seperti Mohammad Yamin, Sugondo dan Sunario serta rekan-rekannya pada tanggal 28 Oktober 1928 bertempat di Batavia Jakarta.

Kesadaran akan potensi besar yang dimiliki oleh generasi muda ternyata juga sudah disadari oleh Presiden Ke-1 RI Ir. Soekarno sejak era kemerdekaan. Kutipan pidato sang Presiden ini “beri aku 10 pemuda maka akan ku guncangkan dunia”, men-isyaratkan pesan yang sangat kuat bagaimana pemuda bisa menciptakan perubahan yang luar biasa.

Saham terbesar dalam kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah saham milik masyarakat muda atau pemuda, pengorbanan Fisik yang penuh jiwa dan pikirkan di sumbangkan telah berhasil menghantarkan Indonesia ke gerbang kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia 17 Agustus 1945.

Latar belakang historis tersebut melahirkan fakta bahwa pemuda merupakan tampuk perubahan sosial dari generasi ke generasi. Hal ini rasanya tidak akan berubah sampai kapanpun, jika melihat karakter psikologis pemuda yang notabene sedang memasuki masa aktif, reaktif, kreatif, dan kritis dalam fase perkembangan sosial manusia. Tentu sudah menjadi sebuah keniscayaan untuk menyematkan label agen perubahan (agent of change) di bahu anak-anak muda. Namun, perkembangan zaman menjadikan kolonialisme bukan lagi menjadi tantangan bagi pemuda. Pertanyaan selanjutnya adalah tantangan apa yang harus dihadapi oleh generasi muda hari ini dan Instrumen ide apa yang di tawarkan pemuda zaman now saat ini?

Dalam kesempatan ini saya mencoba ingin berbagi ide dan gagasan yang selama ini saya temukan baik dalam perjalanan pengalaman sebagai Aktivis Mahasiswa maupun dalam pengalaman lainnya. Tentu harus kita sadari bersama dunia saat ini sudah move on memasuki era millennials dalam fase demographic dividend. Era ini digambarkan sebagai sebuah periode waktu di mana teknologi berkembang pesat yang di dukung juga dengan meledaknya usia produktif (15-64 tahun) dan menjadi sebuah gaya hidup bagi generasi di dalamnya. Generasi millennials menjadi sebutan bagi orang yang lahir sekitar tahun 1980 hingga 1999. Artinya, masyarakat yang kini berusia 18-35 tahun diklasifikasikan sebagai kaum berkarekter millennials dan usia tersebut tergolong usia produktif yang di wacanakan sebagai bonus demografi maka kita saat ini sering sekali mendengarkan simbol Youth zaman now (pemuda zaman sekarang).

Perlu kita pahami bersama Youth zaman now hanya sebuah simbol yang menunjukan pemuda saat ini adigiumnya pemuda yang ikut zamannya jadi sebuah adigium yang selama ini kita kenal yakni pemikiran pemuda yang melampaui zamannya lambat tapi pasti mulai tersingkirkan

Mari kita mencoba mencermati seksama bahwa simbol yang berasal dari bahasa yunani (symballo) bermakna melempar bersama-sama dalam satu ide dan gagasan objek yang kelihatan, sehingga objek tersebut mewakili ide dan gagasan. Dalam pemaknaan demikian, maka simbol bahasa adalah suatu kata yang dimaknai dapat mewakili segelintir ide atau gagasan. Youth Zaman Now adalah tata bahasa yang mewakili simbolisasi anak muda, dalam era digital dan millenial penggabungan bahasa sedemikian itu menjadi kekhasan generasi saat ini.

Sebenarnya, Apa yang sesungguhnya ingin didobrak dengan simbol Youth Zaman Now di Indonesia dalam menyambut Bonus Demografi yang gerbangnya sudah di depan mata kita semua.

Dalam pondasi budaya anak muda mencermati kultur ekonomi, kultur politik, hingga kultur pemerintahan. Kejenuhan dalam mengatur ekonomi, politik, dan pemerintahan adalah rentetan ide yang akan dicoba melalui simbol bahasa Youth Zaman Now.

Dengan datangnya fase bonus demografi adalah fase kemenangan anak muda, bonus demografi 2020-2035 adalah momentum waktu yang akan dimanfaatkan Youth Zaman Now dalam mengkapitalisasi kekuatan anak muda untuk membentuk ide dan gagasan dari simbol youth zaman now itu sendiri

Ada sebuah ide atau teori terdahulu mengatakan eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif, Namun hari ini paradigma Montesquieu mulai tergeser bahwa dalam paradigma pemerintahan ada State, Private Sector, dan Civil Society. Oleh generasi Milenial saat ini maka sudut pandang Youth Zaman Now akan lebih khas dengan pemikiran kekinian.

Dobrakan Youth Zaman Now mulai bekerja dengan adanya anak-anak muda yang awalnya tahun 2009 muncul dengan pemilih pemula, 2014 muncul dengan relawan-relawan yang notabene isinya anak muda, dan 2019 muncul dengan partai politik yang notabene isinya Anak Muda. Bisa jadi fenomena Youth Zaman Now yang awalnya bahasa Alay (Anak Lebay) menjadi raksasa yang dapat mencengkram secara politik. Sebab State/Government sudah berubah menjadi wacana Youth Government. Sebuah pemerintahan akan berdiri dalam kekuatan pondasi hukum, politik dan administrasi. Politik menurut Youth Zaman Now tidak lagi seperti politik yang kaku, kompleks, dan konservatif.

Sebenarnya fenomena Youth Zaman Now dimana fase gerakan anak muda yang sejalan dengan zaman digital dan generasi milenial. Generasi Konservatif yang tidak mau mengikuti anak muda akan terlindas oleh sejarah.

Instrumen dobrakan ide selanjutnya dari Youth zaman now selain youth government ada juga youth Corporate yang di dasari dari wilayah private sector. Sejumlah pembisnis muda saat ini kebanyakan meneruskan kerajaan bisnis yang sudah ada. Bayu Priawan seorang pembisnis sukses dengan gaya milenial yang meneruskan usaha kakeknya Mutiara Djokosoetono pendiri Blue Bird Group Holding. Selain itu John Riady (Group Lippo).

Disisi lain dari pemuda milenial yang berkecimpung dalam gagasan youth corporate ada juga geliatnya anak muda dalam youth enterpreunership. Banyaknya bussiness karya anak muda adalah karakter dari Youth Zaman Now yang lebih leluasa dalam membangun zaman nya sendiri yang bersifat pembangunan berkelanjutan berbasis pengusaha muda. Kedepan dunia pendidikan akan mulai diarahkan dalam pembangunan berkelanjutan berbasis wirausaha usaha.

Sebenarnya di Indonesia ini telah hadir suatu lembaga besar yang menaungi dan siap memajukan sektor perekonomian di Indonesia yang berkelanjutan dengan berbasis dunia usaha. Salah satunya HIPMI. Lembaga yang didirikan Abdul Latief Cs ini sedikit telah berhasil menaikkan derajat dunia bisnis atau pengusaha sehingga menjadi salah satu profesi yang terhormat di mata masyarakat Indonesia. Keberhasilan tersebut terlihat setelah terjadi krisis ekonomi besar-besaran melanda Indonesia di tahun 1998, HIPMI mampu membuktikan rekam jejaknya saat dengan sukses mencetak kaderisasi wirausaha, dengan tampilnya tokoh – tokoh muda dalam percaturan dunia usaha nasional maupun internasional. Keadaan itu kemudian dapat merubah pandangan masyarakat terhadap profesi pengusaha pada posisi terhormat.

Dari sini bisa kita lihat, pemuda millenials yang berkarakter jiwa kewirausahaan akan juga memenangkan era millenials dan bonus demografi. Sebab dari ide dan gagasan pemuda yang banyak berpendidikan memilih terjun dalam dunia corporate atua usaha telah menjadi bahan bagi pihak-pihak lain untuk membangun suatu sistem pendidikan yang nantinya di arahkan dalam proses pembangunan berkelanjutan berbasis corporate.

Selain dua instrumen Youth Government dan youth corporate ada lagi yang terkahir Youth society. Semangat pemuda membentuk lembaga-lembaga masyarakatny lebih iconic dan paradigma yang dibangun harus sesuai zamannya adalah kekhasan Youth Zaman Now. Beragam komunitas tumbuh dalam rahim anak muda sekarang yang tidak mereduksi nilai-nilai kebangsaan, dan nilai-nilai sosial. Seperti Online Seller Meetup adalah wadahnya para pebisnis online yang ingin terus mengembangkan usahanya, khususnya dengan memanfaatkan teknologi digital yang dikemas dalam bentuk yang lebih Youth Zaman Now.

Saat ini fenomena nya adalah Ideologi bertarung dalam wilayah digital, itulah Proxy War. Artinya disini Organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan pun harus mengikuti ide-ide generasi milenials bahwa penerimaan terhadap organisasi nya adalah suatu bentuk pengakuan bahwa organisasi benar-benar sebagai organisasi pemuda dan mahasiswa. Jiwa Patriotisme, Intelektualisme dan enterpreuner adalah suatu keniscayaan yang harus dipadukan dalam era Youth Zaman Now.

Taklepas juga dalam proxy war berbasis digital. Organisasi Kemahasiswaan dan Kepemudaan yang mengedepankan ideologi yang kuat harus mulai mengikuti zaman milenials dengan tidak melepaskan nilai-nilai ideologi nya.

Sebab ideologi masing-masing organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan adalah sebuah nilai-nilai yang melahirkan panduan dan rambu-rambu bagi kadernya dalam mewujudkan visi dan misi organisasi. Artinya disini, setidaknya ide Pemuda Milenial dalam Wacana Youth Zaman Now yang lebih mengedepankan jiwa Patriotisme dan intelektualisme dapat terwujud dengan mensinergiskan wacana-wacana yang mendidik diantaranya Youth Government, Youth Corporate, dan Youth Civil Society

*Ketua Umum Badko HMI Sumbagsel

Bagikan Ini Di :
HUT OKU