Home / Pilkada Serentak / Pengamat Politik : Sales Pilkada Upaya Mengelabui Aturan, Melegalkan Politik Uang
engamat Politik Stisipol Candradimuka Palembang Ade Indra Chaniago

Pengamat Politik : Sales Pilkada Upaya Mengelabui Aturan, Melegalkan Politik Uang

Palembang, Pelita Sumsel  – Istilah Sales Pilkada mulai mengemuka bahkan viral di media sosial disejumlah daerah yang melaksanakan Pilkada Serentak 2020 di Sumatera Selatan salah satunya di Musi Rawas.
“Sales Pilkada ini sebetulnya tidak lain upaya untuk mengelabui aturan dalam rangka melegalkan praktik money politic atau politik uang dengan berdalih relawan,” ungkap Pengamat Politik Stisipol Candradimuka Palembang Ade Indra Chaniago, Minggu (18/10/2020).

Menurut aktivis 98 ini, Dalam konteks pilkada Sales Pilkada pernah hits pada Pilkada 2018 di Muara Enim, Lahat dan Pagar alam. “Bahkan informasi yang kita dapat pernah terjadi bentrok di lapangan terutama di Pilkada Lahat 2018,” ujar Mahasiswa Program Doktor Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI) ini.

Pada Pilkada 2020 di Sumsel dari pantauan kita praktik Sales Pilkada kembali mengemuka dan panas terutama di Kabupaten Musi Rawas.

“Masyarakat harus cerdas melihat fenomena ini, selama itu sosialisasi tidak masalah, dengan catatan sesuai dengan rule atau aturan yang ada, namun jika sudah mengarah pada politik uang atau menjanjikan sesuatu atau imbalan, maka ini akan jadi masalah sebagaimana dijelaskan dalam UU Pilkada,” ujar Ade.

Menurutnya praktik korupsi yang marak terjadi disekitar kita, bermuara ya dari sini, dari money politik yang dilakukan saat kontestasi pada Pilkada, sehingga tidaklah heran banyak kepala daerah yang ketiban sial dan akhirnya tersangkut kasus korupsi, karena disibukkan dengan urusan proyek untuk mengembalikan modal yang digunakan pada saat pencalonannya.

“Saat ini logika pedagang sedang menjamur dalam pilkada, akibatnya, banyaklah orang, baik elit atau pemimpin, maupun rakyat atau pemilih mencari hidup di politik ketimbang menghidupi politik.

Jadi tidaklah heran kalau akhirnya muncul istilah baru, yakni, GOLPUT atau GOLongan Penerima Uang Tunai. Hal tersebut bisa kita lihat dari fenomena munculnya Sales Pilkada ini,”ungkap Dosen Ilmu Politik Stisipol Candradimuka ini.

Dia menambahkan, bahwa dengan viralnya Sales Pilkada ini, setidaknya menunjukan ada tren  positif yang muncul ditengah masyarakat kita, dimana masyarakat sudah semakin cerdas.

“Setidaknya hal ini dapat dilihat dari respon atau upaya perlindungan data kependudukan yang dilakukan oleh masyarakat, agar terhindar dari penggunaan data untuk tujuan yang tidak jelas, yang sering diminta dalam praktik Sales pilkada,”terang Dia.(yfr)

Bagikan Ini Di :