Home / DAERAH / Tari Tanggai Tidak Cocok Diperagakan Anak-anak
Pencipta Tari Tanggai, Elly Rudi (Jilbab merah) saat jadi narsum di diskusi soal tari di kegiatan Sepekan Seni yang di gelar oleh Dewan Kesenian Palembang (DKP) di Guns Cafe Rabu (12/2)

Tari Tanggai Tidak Cocok Diperagakan Anak-anak

Palembang, Pelita Sumsel – Tari tanggai yang selama ini kita kenal sebagai pembuka setiap kegiatan di daerah Sumatera Selatan ternyata tidak cocok untuk dilakukan oleh anak-anak. Hal ini dikatakan Pencipta Tari Tanggai, Elly Rudi saat diskusi soal tari di kegiatan Sepekan Seni yang di gelar oleh Dewan Kesenian Palembang (DKP) di Guns Cafe Rabu (12/2).

Elly Rudi mengatakan tari tanggai biasanya dibawakan pada saat upacara penyambutan tamu-tamu resmi atau dalam acara pernikahan. Umumnya tari ini dibawakan oleh lima orang dengan memakai pakaian khas daerah seperti kaian songket, dodot, pending, kalung, sanggul malang, kembang urat atau rampai, tajuk cempako, kembang goyang dan tanggai yang berbentuk kuku terbuat dari lempengan tembaga Tari ini merupakan perpaduan antara gerak yang gemulai busana khas daerah para penari kelihatan anggun dengan busana khas daerah. Tarian menggambarkan masyarakat Palembang yang ramah dan menghormati, menghargai serta menyayangi tamu yang berkunjung ke daerahnya.

“Saya menciptakan tari Tanggai ini pada tahun 1965, diangkat dari budaya “rasan tuo”, yaitu budaya cari jodoh, dari orang tua yang mencarikan jodoh untuk anak perempuan yang telah masuk usia pernikahan, pada acara rasan tuo biasanya ditampilkan tari yang dimainkan oleh anak gadis yang telah layak untuk di jodohkan,” ungkapnya.

Menurut Bunda Elly sapaan akrabnya, Tari Tanggai  memang diperuntukkan bagi gadis yang usianya sudah masuk untuk dinikahkan dan dilakukan pada acara perjodohan pada adat “rasan tuo”.

“Dan kami ingin masyarakat tahu bahwa tari tanggai ini memang tidak cocok untuk dimainkan oleha anak-anak, saya saat ini miris, karena saya menciptakan ini untuk mengangkat derajat perempuan Sumsel,” paparnya

Dirinya berharap ada upaya dari pemerintah untuk mensosialisasi soal hal ini.

“Kita sudah koordinasi dengan Dinas Kebudayaan dan akan kita sosialisasi soal tari tanggai, tari tanggai ini harus ditampilkan secara terhormat,” tutur Bunda Elly.

Senada, salah satu seniman Kota Palembang, Erwan Suryanegara mengungkapkan bahwa tari Tanggai ini memang untuk perempuan dewasa dikarenakan konsep tari tanggai ini adalah tanggai itu artinya kuku, kuku itu biasanya perempuan dewasa diperuntukan untuk menjaga diri dari ancaman

” Tari tanggal itu termasuk tari lama, Elly Rudi menciptakan dengan konsep yang berdasarkan budaya, terkait soal anak-anak, konsep tarian ini adalah kuku, yang dimainkn oleh perempuan dewasa, jadi memang tidak cocok untul anak-anak,” pungkasnya. (jea)

Bagikan Ini Di :