Pelita Sumsel

Mustafa Didalam Mandi Tjahaja 5 Oktober 1950

waktu baca 2 menit
Kamis, 2 Mar 2017 01:21 0 17 Admin Pelita

Pelita Sumsel – Buku Mandi Tjahaja di Tanah Sutji bukanlah buku fiksi layaknya roman Di Bawah Naungan Ka’bah. Meski sama-sama berlatar belakang kehidupan di Mekkah, buku Mandi Tjahaja di Tanah Sutji adalah buku memoar perjalanan Haji Abdul Karim Malik Abdullah alias Buya Hamka, ketika naik haji pada 1950.

Kala itu Hamka ditunjuk oleh Majelis Pimpinan Haji (MPH) untuk jadi pemimpin rombongan jamaah haji sebanyak 970 orang. 16 Agustus 1950, kapal angkat sauh dari Tanjung Priok menuju Arab Saudi. Hampir selama tiga bulan lebih, Hamka mengumpulkan fragmen pengalamannya berhaji dalam sebuah buku.

Henry Chambert-Loir, peneliti di peneliti di Ecole Française d’Extrême-Orient dalam bukunya berjudul Naik Haji di Masa silam: Kisah-kisah orang Indonesia Naik Haji 1482-1964, memuji buku yang ditulis Hamka ini.

“Hamka menulis hari demi hari, tetapi tidak menceritakan apa yang telah terjadi hari itu: Dia merenungkan suatu topik, mengisahkan suatu cerita, melukiskan potret seseorang [..] Hasilnya sebuah buku yang bergaya spontan dan santai tetapi kayak akan pikiran berbobot tentang berbagai macam soal kontemporer.”

Berhubung ini memoar, Hamka tentu tidak sedang secara sengaja mengarang-ngarang cerita soal dukun urut asal Palembang dan Raja Saudi ini. Jika menilik dari keseluruhan isi tulisan, titik berat dari kisah yang dituliskan Hamka pada 5 Oktober 1950 adalah soal kisah mukimin alias orang-orang Indonesia yang bermukim di Arab Saudi.

Sebelum memulai cerita, Hamka bertutur lebih dulu soal kisah si Mustafa yang terjadi pada masa Raja Abdul Aziz raja pertama sekaligus pendiri kerajaan Arab Saudi. Dia memimpin Saudi pada periode 1932-1952.

“Raja Abdul Aziz merasa senang sekali jika memakai pegawai bangsa kita. Kepala polisi penjaga istimewa Raja Abdul Aziz adalah putra Indonesia. Namanya Mustafa Gukguk.

Pangkatnya naik lantaran pada suatu ketika budak istana lari, dan tak ada yang berani menangkap, maka dengan ‘silat Padang’ Mustafa dapat mengelakan serangan jembia (sejenis senjata tradisional laras pendek, seperti keris/belati), dan merampas jembia itu dari tangan si budak.”Dari sanalah akhirnya Mustafa Guguk menjadi kepala polisi Riyadh.

Dalam setiap fragmen kisah-kisah mukimin itu, Hamka selalu memberikan identitas subjek secara detil, mulai dari nama si tokoh, tempat tinggal sampai kepada siapa bekerja. Kedetailan sayangnya tidak dipapar rinci saat menceritakan kisah si dukun urut asal Palembang yang pernah menyembuhkan cidera patah kaki Amir Abdullah cucu dari Raja Abdul Aziz saat berkuda dengan medium rotan.  Apa yang dilakukan Hamka tentu sah-sah saja demi melindungi si dukun agar tak dipenggal di Arab Saudi sana.

sumber : tirto.id – wam/zen

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

LAINNYA