Gambar_Langit Gambar_Langit

Islam Kaffah Cegah Radikalisme

waktu baca 3 menit
Rabu, 1 Feb 2017 02:29 0 117 Admin Pelita

Palembang, Pelita Sumsel-Munculnya sumber pemikiran radikal di kalangan Pemuda, Mahasiswa, Pelajar dan masyarakat, radikal adalah penafsirkan teks ajaran Islam yang literal atau tekstual serta menolak penggunaan ilmu pengetahuan dalam memahaminya. Akibatnya muncul penafsiran yang mendorong orang melakukan perbuatan radikal, hal ini di sampaikan Ibrahim Al Faruq, S.H.I (Ketua JPRMI Kota Palembang) dalam Dialog Interaktif bertajuk tema ” Peran Para Ulama dan Tokoh Agama Dalam dan Mencegah Terorisme dan Radikalisme; Mewujudkan Islam Rahmatan Lil Alamin di selenggarakan Forum Kajian Ilmiah Syarif Madani (FKISM)

“Langkah yang paling mendasar untuk menghilangkan faham ini adalah dengan Kajian-kajian Islam secara ilmiah harus dihidupkan seperti ini, penataran-penataran yang harus digalakan baik di lingkungan sekolah agar remaja menjadi kritis dan tidak mudah diajak pada pemikiran yang keliru. Selain itu, kurikulum pendidikan agama baik formal maupun non formal selayaknya disisipkan konsep anti radikalisme.” Ungkap Faruq Ketua JPRMI Kota Palembang.di Aula Pasca Sarjana UIN Raden Fatah Palembang. Selasa (31/01). 

Senada, Sulaiman M Urif mengatakan Radikalisme dan Terorisme substansinya bukan pada orangnya atau gerakannya, namun lebih pada paham. Selama paham ini ada dan menyebar, selama itu pula terorisme itu ada, meskipun para teroris telah ditangkap dan dihukum. Untuk itu jika kita sebagai Masyarakat tidak belajar dan tidak dekat dengan Para Alim Ulama dan bertanya kepada Ahli Agama maka kita akan masuk dalam Kategori tersebut.

“Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi Rasulullah SAW bersabda ulama adalah pewaris Nabi,” Jelas Sulaiman.

Ditempat yang sama M Adil memberikan penjelasan yang lebih menekan dengan Kondisi NKRI sekarang ini. Beliau mengatakan sebenarnya masyarakat Indonesia semakin cerdas dan angka radikalisme dan terorisme cenderun berkurang. Namun demokrasi Indonesia seolah-olah ada Wujud tapi tidak ada isi (Perlahan Hilang).

“Sekarang ini saya merasa aneh dengan pihak pemerintah kita, bahan Ujian Tesis Strata Dua (S2) yang sudah lulus dites oleh para Akademisi yang bergelar Profesor dan Doktor tapi malah menjadi masalah bagi Pemerintah jika Ujian Tesis tersebut bersifat nasionalis, Saya yakin Habib Rizieq Syihab itu sudah tuntas Ideologinya dan Tesis Strata Dua (S2)nya sudah dinyatakan lulus oleh para pengujinya,” Tegasnya

“Kita para akademisi sekarang ini sedikit timbul rasa takut kalau Skripsi dan Tesis Kuliah bisa di pidanakan oleh pemerintah” tutur Adil.

Sementara salah satu Peserta Diskusi Publik dan Dialog Interaktif bernama Aknan Khairullah mengatakan kalau pembicaraan dan diskusi mengenai radikalisme dan terorisme itu sudah cukup tuntas sekarang ini tinggal kita action dilapangan.

“Hari ini dan kedepannya kita harus membicarakan kontribusi para Ulama, Agama dan Pemuda Islam dalam mengatasi perkembangan paham apapun yang sifatnya mengancam kedaulatan NKRI bahkan bila perlu kita berbicara bagaimana kita menghabisi paham-paham tersebut hingga ke akar-akarnya” ungkap Aknan (djiebond)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA